Wednesday, June 25, 2008

5 syarat untuk melakukan maksiat

"Suatu hari ada seorang lelaki yang menemui Ibrahim bin Adham. Dia berkata:
"Wahai Aba Ishak! Selama ini aku gemar bermaksiat. Tolong berikan aku nasihat."
Setelah mendengar perkataan tersebut Ibrahim berkata:
"Jika kamu mahu menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka boleh kamu melakukan maksiat."
Lelaki itu dengan tidak sabar-sabar bertanya.
"Apakah syarat-syarat itu, wahai Aba Ishak?"
Ibrahim bin Adham berkata:
"Syarat pertama, jika kamu bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rezeki-NYA."
Mendengar itu dia mengernyitkan kening seraya berkata:
"Dari mana aku mahu makan? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah?
"Ya!" tegas Ibrahim bin Adham.
"Kalau kamu sudah memahaminya, masih mampukah memakan rezekinya, sedangkan kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya?"
"Yang kedua," kata Ibrahim, "kalau mahu bermaksiat, jangan tinggal di bumi-Nya!
Syarat ini membuat lelaki itu terkejut setengah mati.
Ibrahim kembali berkata kepadanya:
"Wahai Abdullah, fikirkanlah, apakah kamu layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan kamu melanggar segala larangan-Nya?"
"Ya! Anda benar." kata lelaki itu. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab:
"Kalau kamu masih mahu bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!"
Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata:
"Wahai Ibrahim, ini nasihat macam mana? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?"
"Ya, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan melakukan maksiat?" kata Ibrahim.
Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.
Ibrahim melanjutkan:
"Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu, katakanlah kepadanya, 'Ketepikan kematianku dulu. Aku masih mahu bertaubat dan melakukan amal soleh"
Kemudian lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersedar dan berkata:
"Wahai Ibrahim , mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permintaanku?"
"Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahawa kamu tidak boleh menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau boleh lari dari kemurkaan Allah?"
"Baiklah, apa syarat yang kelima?"
Ibrahim pun menjawab:
"Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak mengiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau ikut bersamanya."
Perkataan tersebut membuat lelaki itu insaf. Dia berkata:
"Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya."Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran.
"Mulai saat ini aku ingin bertaubat kepada Allah." katanya sambil teresak-esak.

Wednesday, June 18, 2008

= kerana dia manusia biasa =

Setiap kali ada sahabat yang ingin menikah, saya selalu mengajukanpertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suami/isterimu?Jawabannya ada bermacam-macam. Bermula dengan jawaban kerana Allahhinggalah jawaban duniawi.Tapi ada satu jawaban yang sangat menyentuh di hati saya. Hingga saatini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban dari salahseorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannyasungguh ajaib.Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Kemudian membuat keputusan menikah.Persiapan pernikahan mereka hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja.Kalau dia seorang akhwat, saya tidak hairan. Proses pernikahan sepertiini selalu dilakukan. Dia bukanlah akhwat, sebagaimana saya. Satu halyang pasti, dia jenis wanita yang sangat berhati-hati dalam memilihsuami.Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sukar untuk membuka hati.Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menganggapnya serius.Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannyamenjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tarikh pernikahannya.Serta meminta saya untuk memohon cuti, agar dapat menemaninya semasamajlis pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya.Sebenarnya….!!!Saya ingin tau, kenapa dia begitu mudah menerima lelaki itu. Ada apakahgerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia boleh memutuskanuntuk bernikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk ketika itu(benar-benar sibuk).Saya tidak dapat membantunya mempersiapkan keperluan pernikahan.Beberapa kali dia menelefon saya untuk meminta pendapat tentang beberapaperkara.Beberapa kali saya telefon dia untuk menanyakan perkembangan persiapanpernikahannya. That’s all……Kami tenggelam dalam kesibukanmasing-masing.Saya menggambil cuti 2 hari sebelum pernikahannya. Selama cuti itu sayamemutuskan untuk menginap dirumahnya.Pukul 11 malam sehari sebelum pernikahannya, baru kami dapat berbual-hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguhmembelenggu kami. Pada awalnya kami ingin berbual tentang banyak hal.Akhirnya, dapat juga kami berbual berdua. Ada banyak hal yang ingin sayatanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak perkara kepada saya. Beberapakali Mamanya mengetok pintu, meminta kami tidur.“Aku tak boleh tidur.” Dia memandang saya dengan wajah bersahaja. Sayafaham keadaanya ketika ini.“Matikan saja lampunya, biar disangka kita dah tidur.”“Ya.. ya.” Dia mematikan lampu neon bilik dan menggantinya dengan lampuyang samar. Kami meneruskan perbualan secara berbisik-bisik.Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kami lakukan. Kami berbual banyakperkara, tentang masa lalu dan impian-impian kami. Wajah keriangannyanampak jelas dalam kesamaran. Memunculkan aura cinta yang menerangibilik ketika itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yangselama ini saya pendamkan.“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit daribaringnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Perlahan dia membuka lacimeja hiasnya.Dengan bantuan lampu LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya.Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan sekeping envelopkepada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Envelop putih panjangdengan cop surat syarikat tempat calon suaminya bekerja. Apa ni. Sayamelihatnya tanpa mengerti. Eeh…, dia malah ketawa geli hati.“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas putih bersaiz A4,saya melihat warnanya putih. Hehehehehehe……..“Teruknya dia ni.” Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahansenyum.Sementara dia cuma ketawa melihat ekspresi saya. Saya mulamembacanya.Saya membaca satu kalimat diatas, dibarisan paling atas. Dansampai saat inipun saya masih hafal dengan kata-katanya. Begini isisurat itu………****************************************************************************************************************************************************************************Kepada Yth ………
Calon isteri saya, calon ibu anak-anak saya, calon menantu Ibu saya dancalon kakak buat adik-adik sayaAssalamu’alaikum Wr WbMohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat inihingga akhir. Baru kemudian silakan dibuang atau dibakar, tapi sayamohon, bacalah dulu sampai selesai.Saya, yang bernama …………… menginginkan anda ……………untuk menjadi isteri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusiabiasa. Buat masa ini saya mempunyai pekerjaan.Tetapi saya tidak tahu apakah kemudiannya saya akan tetap bekerja. Tapiyang pasti saya akan berusaha mendapatkan rezeki untuk mencukupikeperluan isteri dan anak-anakku kelak.Saya memang masih menyewa rumah. Dan saya tidak tahu apakah kemudiannyaakan terus menyewa selamannya. Yang pasti, saya akan tetap berusaha agaristeri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapakelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupikelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusiabiasa.Cinta saya juga biasa saja.Oleh kerana itu. Saya menginginkan anda supaya membantu saya memupuk danmerawat cinta ini, agar menjadi luar biasa.Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Keranasaya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuattenaga menjadi suami dan ayah yang baik.Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa sayamemilih anda. Saya sudah sholat istiqarah berkali-kali, dan saya semakinmantap memilih anda.Yang saya tahu, Saya memilih anda kerana Allah. Dan yang pasti, sayamenikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Sayatidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkinmenjadi lebih baik dari sekarang ini.Saya memohon anda sholat istiqarah dulu sebelum memberi jawaban padasaya.Saya beri masa minima 1 minggu, maksima 1 bulan. Semoga Allah ridhodengan jalan yang kita tempuh ini. AminWassalamu’alaikum Wr Wb***************************************************************************************Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kaliini saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah.Sederhana, jujur dan realistik. Tanpa janji-janji yang melambung dankata yang berbunga-bunga. Surat cinta biasa.Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyumtertahan.“Kenapa kamu memilih dia……?”“Kerana dia manusia biasa…….” Dia menjawab mantap. “Dia sedar bahawadia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya.Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikanapa-apa.Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kami kemudian hari.Entah kenapa, justru itu memberikan kesenangan tersendiri buat aku.”“Maksudnya?”“Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masihada.betuI tak? Paling tidak…. Aku tau bahawa dia tidak akan frust kalausuatu masa nanti kami jadi miskin.“Ssttt…….” Saya menutup mulutnya. Khuatir kalu ada yang tau kamibelum tidur. Terdiam kami memasang telinga.Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kami salingberpandangan lalu gelak sambil menutup mulut masing-masing.“Udah tidur. Besok kamu mengantuk, aku pula yang dimarahi Mama.” Kamikembali berbaring. Tapi mata ini tidak boleh pejam. Percakapan kami tadimasih terngiang terus ditelinga saya.“Gik…..?”“Tidur…… Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingindia tidur, agar dia kelihatan cantik besok pagi. Rasa mengantuk sayatelah hilang, rasanya tidak akan tidur semalaman ini.Satu lagi pelajaran dari pernikahan saya peroleh hari itu. Ketikamanusia sedar dengan kemanusiannya. Sedar bahawa ada hal lain yangmengatur segala kehidupannya. Begitu juga dengan sebuah pernikahan.Suratan jodoh sudah terpahat sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak adaseorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahannya kelak.Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tetapisebuah ‘proses usaha’. Betapa indah bila proses menuju pernikahanmengabaikan harta, tahta dan ‘nama’.Status diri yang selama ini melekat dan dibanggakan (aku anak orangini/itu), ditanggalkan.Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbanganyang utama. Pernikahan hanya dilandasi kerana Allah semata. Diniatkanuntuk ibadah. Menyerahkan segalanya pada Allah yang membuat senarionya.Maka semua menjadi indah.Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap HambaNYA. Hanya Allahyang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakansebuah pernikahan.Kita hanya boleh memohon keridhoan Allah. MemintaNYA mengurniakanbarokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjagaketenangan dan kemantapan untuk menikah.Jadi, bagaimana dengan cinta?Ibu saya pernah berkata, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadihadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya.Agar cinta itu dapat bersemi dengan indah menaungi dua insan dalampernikahan yang suci. Cinta tumbuh kerana suami/isteri (belahan jiwa).Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusahamenggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin.Kisah di atas sedikit sebanyak telah mengubah pandangan dan persepsi saya tentang cinta. Kita terlalu mengagungkan cinta antara manusia, sedangkan ia hanya sementara. Cinta itu suci, tapi kita yang mengotorkannya dengan noda. Cinta itu anugerah dari Allah dan untuk memeliharanya ialah dengan mentaati Allah,walaupun tiada janji manis, harta, tapi andai kita mentaatiNya, InsyaAllah Allah akan memberkati kehidupan keduanya dan lahirlah kemanisan cinta yg bermatlamatkan kerana Allah..Pimpinlah aku untuk mencintaiNya…

Saturday, June 14, 2008

Surat Fatimah gemparkan kota Baghdad...

Fatimah adalah seorang saudara perempuan seorang mujahid yang terkenal di daerah Abu Gharib, yang berasal dari sebuah keluarga yang terkenal kebaikan dan ketaqwaannya. Suatu hari pasukan AS menyerbu rumahnya, dengan tujuan menangkap saudaranya. Namun karena mereka tidak dapat menemukannya, pasukan AS menangkap Fatimah dengan tujuan memaksa saudaranya menyerahkan diri.

Surat tulisan tangan Fatimah, baru-baru ini berhasil diseludupkan keluar dari penjara Abu Gharib, surat ini menggambarkan penderitaan para tawanan wanita akibat perbuatan tentera AS.

Segera surat ini tersebar dan menghebohkan kota Baghdad, mengirimkan gelombang yang akan terus berlanjut ke seluruh Iraq!

Mafkarat al-Islam berhasil mendapatkan salinan surat tersebut.

Bismillahirrahmanir rahiim.
"Say He is God the One; God the Source [of everything]; Not has He fathered, nor has He been fathered; nor is anything comparable to Him." [Qur'an, Surat 112 :al-Ikhlas]

Saya menulis surat Al-Ikhlas ini karena mempunyai arti yang mendalam bagi saya, dan menimbulkan getaran di hati orang-orang yang beriman.

Saudaraku mujahidin di jalan Allah! Apa yang dapat kukatakan padamu?

Saya katakan, rahim-rahim kami telah terisi dengan janin akibat perkosaan yang dilakukan keturunan kera dan babi itu. Mereka telah menodai tubuh kami, meludahi muka kami, dan merobek-robek Al-Quran untuk digantungkan ke leher-leher kami. Allahu Akbar!!!

Tidakkah kau mengerti tentang kejadian yang menimpa kami?
Betulkah kau tidak tahu ini terjadi pada kami? Kami saudaramu, dan Allah akan meminta tanggungjawabmu tentang kejadian ini kelak.

Demi Allah, tidak semalam pun kami lewatkan di penjara ini kecuali mereka mendatangi salah satu dari kami untuk melampiaskan nafsu setannya. Padahal kami selalu menjaga kehormatan kami karena takut kepada Allah. Takutlah pada Allah! Bunuhlah kami bersama mereka!

Hancurkan mereka bersama kami! Jangan biarkan kami di sini agar mereka bisa bersenang-senang memperkosa kami, sesungguhnya ini adalah sebuah perbuatan dosa besar di sisi Allah. Takutlah pada Allah akan urusan kami. Biarkan (jangan serang) tank dan pesawat mereka. Datanglah pada kami di penjara Abu Ghurayb.

Saya saudaramu karena Allah. Mereka memperkosa saya lebih dari sembilan kali dalam satu hari. Bisakah kau bayangkan? Bayangkan salah satu saudaramu diperkosa. Bersama saya ada 13 gadis, semuanya belum bernikah.

Semuanya telah diperkosa didepan mata kami semua.
Mereka melarang kami untuk sholat. Mereka mengambil pakaian kami, dan membiarkan kami telanjang. Saat surat ini saya tulis, seorang di antara kami telah bunuh diri setelah diperkosa beramai-ramai. Seorang tentera memukulnya di dada dan paha setelah memperkosanya, lalu menyiksanya. Gadis itu kemudian bunuh diri dengan memukulkan kepalanya ke tembok penjara, karena dia sudah tidak sanggup menerima ini. Meskipun bunuh diri dilarang oleh Islam, saya memaklumi perbuatannya.
Saya hanya berharap, semoga Allah mengampuninya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.

Saudaraku, saya katakan padamu lagi, takutlah pada Allah.
Hancurkan kami bersama para tentara itu, agar kami bisa beristirahat dalam damai.
Tolonglah kami, tolonglah kami, tolonglah kami!

Waa Mu'tasimah!

Surat ini telah berakhir, namun penderitaan penulisnya dan para muslimah belum berakhir.
Hatta mataa haadza s-sukuut !!
Ini yang sudah kesekian kalinya terjadi..
Entah berapa lagi akan segera menyusul
Kemaren, hari ini dan besok
Begitu seterusnya..
Ya Rabb nasyku ilaika da'fa quwwatina
Wa qillata hiilatina
Allahumma n-shurna nashran adziima
Allahuma 'alaika bil haaula l-kuffar
Allahuma 'alaika biman adzaa l-muslimin


wallahua'lam...

Thursday, June 12, 2008

What is LOVE???

When you are together with that special someone, you pretend to ignore
that person. But when that special someone is not around, you might look around
to find them.
At that moment, you are in love.

Although there is someone else who always makes you laugh,
your eyes and attention might go only to that special someone.
Then, you are in love.

Although that special someone was supposed to have called you long back,
to let you know of their safe arrival,
your phone is quiet.
You are desperately waiting for the call!
At that moment, you are in love.

If you are much more excited for one short e-mail from
that special someone than other many long e-mails,
you are in love.

When you find yourself as one who cannot erase all the
emails or SMS messages in your phone because of one message
from that special someone, you are in love.

When you get a couple of free movie tickets, you would
not hesitate to think of that special someone.
Then, you are in love.

You keep telling yourself, "that special someone is just a friend",but
you realize that you can not avoid that person's special attraction. At that
moment, you are in love.

While you are reading this mail, if someone
appears in your mind,then u are in love with that person...;))

AKU ATAU DIA PEMINTA SEDEKAH?

Kalau bagi semuanya, alamat aku mati tak makan untuk satu hari, kerana itu sajalah duit yang aku ada. Itulah sehelai duit yang ada dalam poket aku. Itu pun helai yang paling rendah nilainya – RM 2.00. Kalau aku bagi jugak, ertinya aku akan kebuluran hari ini, dan yang lebih menderita, aku akan berjalan kaki balik rumah kerana tak boleh naik teksi atau bas.
“Boleh tak saya ‘interview’ mak cik?” aku bertanya pada peminta sedekah di jejantas Jalan Chow Kit.
“Saya ni orang surat khabar.”
Peminta sedekah itu tidak terus menjawab, tetapi terus mengerang kesakitan sambil memicit-micit kepala lututnya yang berbalut kerana luka teruk.
Melihat pada pembalut luka yang merah dengan darah itu aku dapat membayangkan betapa teruk kecederaan di lututnya. Pembalutnya pun kedam, mungkin dah tak ditukar dua atau tiga minggu. Simpati betul, aku!
Kalau aku kaya mesti aku memberi peminta sedekah ini RM 1000 atau RM 2000 atau RM 20 000 pun tak apa. Tapi apa boleh buat, aku Cuma ada RM 2.00
“Saya kesian tengok mak cik, boleh tak saya interview?” aku bertanya lagi.
“Kalau betul kesian, hulurkanlah dulu sikit duit,” katanya lagi sambil mengerang dan mengoyakkan tin susu yang di dalamnya hanya ada beberapa keeping duit satu sen.
“Mak cik dah tujuh hari tujuh malam tak makan nasi. Minum air sejuk saja. Ini dah sekerat hari baru dapat tiga sen. Aduh…. Sakitnya kaki mak cik….”
Kesian betul aku. Akhirnya dengan perasaan yang amat berat aku menyeluk poket dan menyerahkan duit RM 2.00 yang aku ada.
“Hah, mak cik ambillah dua ringgit ini,” kataku dalam nada yang paling sayu- bukan sayu pada peminta sedekah tetapi sayu pada diri sendiri yang kini sesen pun tidak ada dalam poket.
“Terima kasih, nak. Baik betul hati anak ini….” Kata peminta sedekah itu. Aku hanya menelan air liur sambil memerhatikan peminta sedekah itu memasukkan RM 2.00 ke dalam kantung seluarnya.
“Saya ni wartawan, mak cik. Bos saya suruh saya buat cerita tentang peminta sedekah. Kalau saya menyiarkan cerita mak cik, tentu orang ramai akan bersimpati dan menghulurkan derma pada mak cik. Amacam?” aku memancing umpan.
“Setuju!” kata peminta sedekah itu.
“Tapi tak elok berbual di tempat mak cik mencari rezeki. Nanti apa orang akan kata dan apa kata kalau mak cik ajak anak ke pondok buruk mak cik dan kita bercerita kat sana?”
ah , soalan cepu emas. Tidak mungkin akan kutolak. Bolehlah aku buat liputan tentang cerita mengenai dirinya dengan lebih terperinici.
“Setuju!” aku berkata.
Dengan susah payah aku memapah peminta sedekah yang berbalut luka kaki itu menuruni jejantas. Dua tiga kali dia nak terjatuh dan mengerang kesakitan. Kesiannya dia…tapi apa boleh buat?
Apabila sampai di tepi jalan raya, aku terkejut melihat peminta sedekah itu tiba-tiba menahan sebuah teksi. Teksi berhenti. Mak cik membuka pintu belakang dan mengajak aku naik sama. Aku menuruti perintahnya tanpa banyak soal dan masih dalam keadaan kebingungan.
“Kampung Datuk Keramat!” kata si peminta sedekah itu. Sekali lagi aku terkejut, aik ada pulak duit dia nak naik teksi. Aku yang jarang makan gaji ni pun jarang naik teksi.
Akhirnya kami berhenti di kawasan rumah setinggan di Kampung Datuk Keramat. Meter teksi menunjukkan bacaan RM 12.60, aku semakin gabra dan panik. Macam man ni? Duit tidak cukup.
“Saya tidak ada duit nak bayar tambang ni mak cik!”
“No problem!” kata peminta sedekah itu dengan selamba dan menghulurkan duit kepada pemandu teksi itu RM 15.00 sambil berkata:
“Keep the change!”
fuuuhhhh….. loadednye mak cik peminta sedekah ni. Pandai cakap orang putih lak tu. Aku kalau cakap orang putih pun tunggang terbalik. Aku menelan air liurku dan masih tidak mempercayai apa yang berlaku di depanku. Terduduk sebentar aku di situ.
Rumah mak cik memang rumah setinggan, tetapi sebaik sahaja kakiku melangkah masuk, “Fuuyoooo” terkejut aku melihat keadaan di dalam rumahnya, 20 atau 30 kali lebih baik daripada rumah aku.
Ada set mini hifi jenama terbaik, ada tv 24 inci, ada kusyen empuk, ada peti ais besar, dan ‘wall-to-wall carpet’.
“Inilah rumah mak cik, rumah haram aje….!” Katanya selamba duduk bersandar di kusyen seperti raja.
“Mak cik duduk sorang je ke?”
“Tak, suami mak cik kerja pejabat dia jadi pegawai. Anak mak cik ada tiga orang. Dua duduk asrama dan seorang lagi masuk kolej swasta,” katanya. Makin pelik bunyinya. Seorang peminta sedekah hidup mewah sebegini. Ada suami kerja pegawai dan anak-anak masuk asrama serta ke kolej swasta. Fuuhh!
Dia kemudian membuka pembalut luka tadi, dan sekali lagi aku terkejut melihat tingkah lakunya serta keadaan fizikalnya yang sebenar. Rupanya kaki dan lututnya tidak luka walaupun sedikit. Warna merah pada pembalut luka itu bukannya darah tapi cat.
“Mak cik bukannya apa. Saja malas nak kerja makan gaji. Tidak suka jadi kuli. Jadi peminta sedekah ni lagi mudah, mak cik jadi bos, mak cik jadi kulli…!” katanya sambil ketawa.
“Suami mak cik tak marah ke mak cik buat kerja macam ni?”
“Suami mak cik marah tapi mak cik buat jugak. Mak cik sebenarnya bosan duduk rumah sorang-sorang. Anak ke sekolah, suami ke pejabat, mak cik terkulat-kulat tinggal di sini sorang-sorang.”
“Habis mak cik berpura-puralah selama ini….?”
“Bukan berpura-pura, inilah idea canggih. Pendapatan jadi peminta sedekah pun boleh tahan,” katanya sambil mengeluarkan duit dari kantung seluarnya. Ya Allah…… mak oooiii… ada beberapa keeping RM 10, RM 50, RM 5, RM 2 (termasuk duit aku) dan yang paling banyak syiling RM 1. kira punya kira, jumlahnya RM 253.60 sen. Setengah hari minta sedekah dapat dua ratus lebih!
“Ginilah mak cik….” Kataku sambil menelan air liur melihat duit yang b ertabur di atas karpet.
“Saya rasa tak payahlah saya interview mak cik. Sebab saya sudah mendapat maklumat yang secukupnya dengan berbual bersama mak cik sekejap tadi.”
“Laaaa…….” Kata mak cik peminta sedekah itu dengan menunjukkan mimik muka yang pelik.
“Satu lagi mak cik,” kataku dengan suara yang terketar-ketar kerana menahan malu.
“Boleh tak mak cik bagi balik duit saya RM 2 itu? Saya nak buat tambang bas balik rumahlah….”
“Engkau sudah pokai ke? Ambil ni, mak cik sedekah kat engkau,” kata mak cik itu sambil menghulurkan wang kertas RM 10 kepadaku dan menambah, “Kesian…”
Aku mengambil wang RM 10 dan meminta diri untuk pulang. Tiba-tiba aku pula terasa seperti peminta sedekah. Sejak peristiwa itu, aku tidak mahu lagi disuruh ‘interview’ mana-mana peminta sedekah.